28.7 C
Bandung
Monday, August 10, 2020
Home News Halusinasi Mafia di masa Pandemi

Halusinasi Mafia di masa Pandemi

Terbentuk awal Juni 2017 oleh Wahyu insani Akbar (Drum), Bobby (Guitar), Albertus Rio (Bass), Rebecca Hangewa (Vocal), dan MTH Fajar (Keyboard). Di awali oleh hasrat Wahyu dan Bobby yang pada saat itu sedang ingin mencoba meng’explorasi’ musik Rock dengan nuansa Jazz dan brass section. Akhirnya tercetuslah ide untuk membuat sebuah band dengan image gangster italia-america yang disebut dengan nama La Cosa Nostra atau lebih dikenal dengan nama Mafia. Sebagaimana umumnya band kebanyakan pada bulan juli 2018 Rio (bass) mengundurkan diri karena perbedaan visi bermusik, setelah beberapa kali ‘memakai’ addtional player per bulan maret 2020 Rony aritonang resmi bergabung.

Sejak awal terbentuk nama Mafia sudah disepakati menjadi nama dari entitas yg terdiri dari 5 orang ini, selain gampang diingat nama Mafia juga sangat mempresentasikan isi lagu mafia baik secara aransemen maupun lirik.

Komposisi musik Mafia kental dengan nuansa Musik Rock dibalut dengan Brass section serta progresi chord yang khas, berlatarkan blues & jazz swing membuat musik Mafia terdengar elegan namun urakan.

Pada 30 Januari 2019 Mafia merilis single ber-title Hedonis lalu diikuti dengan single ke 2 ber-title oposisi pada tanggal 10 april 2019. Sempat vakum beberapa bulan, pada bulan maret 2020 Mafia kembali ke studio dan merekam beberapa lagu. 10 juli nantiMafia akan merilis single terbarunya yg ber-title Halusinasi

Lagu Halusinasi merujuk pada pertentangan kesehatan mental. Berawal dari keresahan berupa sindiran(dibaca: ejekan) para personil, terhadap seseorang atau kelompok yang merasa dirinya pandai mengubah sebuah kebohongan menjadi kenyataan.
“Udah biarin aja dia mah gila!” adalah sebuah kalimat yang seringkali terlontar. Bentuknya bisa berupa candaan, bisa juga sebaliknya. Sehingga saya merasa bahwa menjadi gila adalah tameng yang efektif melindungi sebuah kesalahan. Pun dengan sikap yang ‘dianggap’ menyimpang dari stereotipe normal menurut masyarakat. Dan pada akhirnya kita tidak bisa membedakan sebuah kegilaan yang benar-benar gila. Karena bagi saya, kegilaan hanya masalah perspektif. Dianggap sebagai bagian dari ketidak-warasan, Halusinasi bagi saya adalah ejekan ringan yang berlaku untuk kita semua yang pasti akan melakukan proses manipulasi apapun bentuknya, sebelum akhirnya kita mengekspresikannya menjadi ‘sebuah kenyataan cerita’. Pun menjadi ejekan keras bagi kita yang sadar betul terhadap segala bentuk manipulasi untuk tujuan memegahkan diri sendiri. Karena, mungkin kamu tidak sadar kalau kamu hanya hidup diatas khayalan” ujar Rebecca vokalis MAFIA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

“After All”: Interpretasi Ulang Dari Sebuah Cerpen

Terinspirasi dari cerpen Behind The Photographs yang ditulis oleh Tamia Setia Tartila, Pangestuning merilis sebuah lagu yang berjudul “After All”. Dalam proses...

Jengah Hubungan Penuh Drama, CJ dan Anggie Fairy Rilis “Gunting Batu Kertas”

Setelah merilis single “Kolaborasi/Eksploitasi” setahun lalu, “CJ” Camelia Jonathan kembali merilis karya di tengah pandemi global COVID-19. Tanggal 31 Juli 2020, single...

Kontemplasi dan Refleksi Dimas Tasning Lewat Single Kedua , ‘The Glide”

Jakarta, 30 Juli 2020 - Setelah berhasil merilis lagu debut “Sway” pada bulan Mei 2020 kemarin, musisi/produser pendatang baru Dimas Tasning kembali...

Halusinasi Mafia di masa Pandemi

Terbentuk awal Juni 2017 oleh Wahyu insani Akbar (Drum), Bobby (Guitar), Albertus Rio (Bass), Rebecca Hangewa (Vocal), dan MTH Fajar (Keyboard). Di...